Senin, 31 Agustus 2009

Cahaya Bulan


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih selembut dulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap sambil membenarkan letak leher kemejaku kabut tipis pun turun pelan pelan di lembah kasih lembah mandalawangi kau dan aku tegak berdiri melihat hutan hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin apakah kau masih membelaiku semesra dulu ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra lebih dekat apakah kau akan berkata kudengar detak jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan yang takkan pernah terjawab kutahu dimana jawaban itu bagaikan letusan berapi membangunkanku dari mimpi sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar