Selasa, 22 Februari 2011

Wanita Tua (di depan Grha Sabha)


Setiap pagi kulihat dirimu menatap sendu indah cakrawala Tatapanmu sungguh hampa serta mengiba Dan matamu yang telah kelabu Meyiratkan duka lara yang pilu Tanganmu menengadah minta berkah, kepada siapa saja yang memberimu upah tanpa kau harus bersusah payah Kau sunggingkan senyum semu sebagai imbalan pada mereka yang medermamu. Tak lupa kau rapal selaksa doa-doa. Mendoakan mereka semoga lancar ujian, semoga terkabul harapan, semoga cepat lulus, semoga nilai bagus, semoga... semoga.. Dan semoga. Ah, untuk apa mendoakan mereka, pikirmu. Jika Tuhan mau mendengar doaku. Sudah dari dulu aku menikmati masa senjaku...

Rabu, 29 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010, Untuk Ratri


Udara semakin dingin. Hujan pun tak kunjung reda. Kau dan aku terdiam disini, di gubuk di tengah sawah ini. Tiga hari lagi menjelang tahun baru. Namun hari-hari justru kian kelabu. Awan mendung kian sering menggulung,dan hujan semakin sering turun. Suatu ketika aku bertanya padamu :Ratri, tahukan kau mengapa Desember selalu kelabu? Dan kau menjawab, tidak tahu, dengan gelengan kepalamu. Aku berkata : Desember selalu kelabu, karena bumi sedang berkabung. Berkabung untuk masa-masa yang telah ia lewati, demi umur yang semakin bertambah, atau berkurang, tergantung bagaimana kau menghitungnya. Demi pengharapan yang sia-sia. Bumi tengah gundah. Gundah karena umurnya bertambah, sementara manusia semakin serakah, menjarah rayah apa yang telah ia pelihara dengan susah payah. Bumi sedang berduka. Berduka karena dirinya kian renta. Bumi sedang lusuh. Lusuh karena dirinya mulai rapuh. Namun kau masih bisa melihat secercah senyumnya. Kau bisa menemukannya memancar dari sela-sela jemari hujan ketika hujan reda. Sebuah lengkung bercahaya warna warni, kau dan aku menyebutnya pelangi. Kau mengerti apa yang kukatakan? Kau menjawab : iya, dengan anggukan Aku bertanya kepadamu : sudahkan kau menyiapkan sebuah kotak peti dari kayu dan sebuah kotak dari besi? Kau balik bertanya : untuk apa, dengan tatapan matamu yang menuntut penjelasan. Aku menjawab : gunakan kotak dari besi untuk menyimpan segala kenangan indah yang kau lalui bersamaku selamaini, agar kenangan itu terpatri abadi di hatimu. Dan gunakan kotak dari kayu untuk menyimpan segala kesedihan dan derita mu, agar kelak rapuh dan hilang seiring berjalannya waktu. Kau tidak menjawab, hanya tersenyum, dan menyandarkan kepalamu di pundakku. Hanya senyum, dalam sepi, yang kau berikan kepadaku. Sungguh aku mengharapkan sepatah kata dari mulutmu. Sekali saja. Dalam hidupku.

Kamis, 18 November 2010

Hamba Pena

Dengan bismilah di rahim sunyi
kugoreskan pana dalam lembaran suci
kutorehkan semua yang kualami
penaku menari dalam duka lara
penaku menari dalam canda tawa
pena adalah hatiku
pena adalah jiwaku
pena adalah duta pikiranku
AKULAH HAMBA PENA

Senin, 21 Desember 2009

Catatan Sang Pemimpi #2


Mimpi hanyalah implementasi dari realita kehidupan nyata yang dirangkai lebih indah. Realita yang tak mampu direalisasikan , sehingga hanya menyisakan impresi impresi semu . Sesuatu yang tak berasti memang. Namun impresi impresi itu , harapan harapan semu itu bagi sebagian orang dapat membengkokkan baja , meretakkan permata , membelah samudra. Mereka mereka itulah orang orang yang beruntung yang memiliki pegangan di tengah derasnya arus sungai kehidupan.

Catatan Sang Pemimpi #3


Kali ini si pemimpi beranjak dari ranjangnya , mengintip hiruk pikuk dunia melalui celah jendela kamarnya , ia melihat seorang anak menemukan sekeping uang di samping rumahnya , semua orang bilang hari ini adalah hari keberuntungan anak itu , si pemimpi merasa iri dengan anak itu , si pemimpi kembali ke ranjangnya yang hangat dan berharap dalam mimpinya ia menemukan lebih banyak uang logam , merangkai mimpi palsu , hanya demi kepuasan diri...meski dengan membohongi diri sendiri

Minggu, 20 Desember 2009

Catatan Sang Pemimpi #1


Mimpi mimpi yang selama ini kuyakini , kini hampir sirna , terkubur dalam angan angan semu Bara api mimpi yang dulu membara , kini mulai padam hanya menyisakan asap kelabu dan jelaga yang terburai , hilang tercabik angin , itulah mimpi mimpiku Aku tidak ingin jadi pecundang yang mempecundangi diri dengan terus bermimpi di balik selimut yang hangat , berharap udara tak terlalu dingin sekedar untuk memandang dunia dibalik jendela , lalu kembali terbaring di ranjang yang empuk untuk kembali merajut mimpi , mimpi yang entah kapan akan terwujud , mimpi mimpi yang telah berakhir , bahkan sebelum dimulai Aku ingin merangkai mimpi , dengan berguru pada pengalaman , belajar dari kehidupan. Sunday, December 20, 2009 at 3:56pm

Rabu, 09 Desember 2009

The Reality vs The Truth


Tak selamanya kebenaran akan menang, terkadang kebenaran dikalahkan oleh kenyataan. Suatu kenyataan mungkin tidak benar, karena itu, ia harus beqpani disalib atau digantung untuk suatu kebenaran...